Wednesday, August 24, 2011

Kepada.


Jika Aku mati bunda,
jangan kau beli tanah berpayung kemboja
biar jadi abu saja itu jasad
Aku akan berkemah di neraka murtad


Maka dengan ini kutuliskan surat
Kepada Kuli, petani, nelayan yang peluhnya urat
yang setiap saat pikiran aku tuju
dianggap benalu, terduduk kuyu

Kepada anak - anak tiada ber-ibu
berpayung langit dan senja abu - abu
Kepada Pemimpin busuk
terhujani peluru kutuk

Kepada pejuang adil yang mati muda
ditembus sangkur bedil, tanpa kuda
Kepada pencuri - pencuri bergaji
berebut ulu dari tubuh gergaji

Kepada anak - anak kecil polos
terbang liar kosong dan tonggos
Kepada penjilat kaki raja
pembunuh muslihat bertameng meja


Jika Aku mati bunda,
jangan kau beli tanah berpayung kemboja
biar jadi abu saja itu jasad
Aku akan berkemah di neraka murtad





Agustus, 2011

Friday, August 19, 2011

Sebelum Aku Keluar kamar

Masih bolehkah kita ber-nas
menangis darah sambil menggaruk-garuk tanah
Atau balik menghadang batang bambu
merobek kulit - kulit batu

Atau tuan cuma membikin kita jadi jualan
Mungkin seribu atau karung sekalian
Kami bosan Tuan, dengan anda
Karena Kami harus suka,
Di rumah anak menunggu luka-luka

Wednesday, July 27, 2011

Percakapan dengan Ibu penjual Bubur




Tadi pagi, Saya pergi ke warung bubur. Warungnya sepi. Jadi Saya pesan segelas kopi dan meminta rokok. Minta. Bukan beli. Ha ha ha. Warungnya di depan rumahnya. Dan karena sepi, maka Saya dipersilahkan duduk di dalam rumahnya saja temani Ibu yang menjual bubur. Maka, terjadilah percakapan yang tak terasa sekitar dua jam lamanya. Memang, kalau sudah asik mengobrol, Saya kadang lupa waktu. Jadi mungkin sedikit kuceritakan di sini.

Ibu penjual ini tinggal bersama ayahnya dan anak laki – lakinya. Rumahnya besar, bergaya jawa zaman pra kemerdekaan. Kamarnya banyak, ruang tengahnya besar. Di dalam rumah ada pajangan – pajangan keris, dan banyak lukisan cat. Kursinya masih model kursi rotan anyaman dulu. Jadi sambil duduk – duduk, Saya sengaja melihat – lihat sebuah foto Bapak Ibunya, hitam – putih dan sudah sedikit berjamur di pinggirannya, lukisan cat air Ibu-Bapaknya. Dan ada lukisan pemandangan, lukisan Ikan di kolam. Semua lukisan cat.



Surat Wasiat Charlie Chaplin untuk anaknya




Selain berakting Chaplin juga memiliki kemampuan menyutradara, menulis naskah, sekaligus mengisi ilustrasi musik di film-film produksinya sendiri. Masa kecilnya yang dekat dengan kemiskinan dan kemelaratan tidak lantas menjadikannya patah semangat.

Chaplin kecil pernah tinggal di rumah penampungan orang miskin, bekerja untuk imbalan makan dan tempat berteduh di kawasan Lambeth, London. Bersama saudara perempuannya Sydney Chaplin, Chaplin berjuang bahu-membahu agar bisa bertahan hidup.



Di usianya yang sangat dini Chaplin sudah mulai berakting dari panggung ke panggung dalam pertunjukan komedi Music Hall.

Bersamamu Melintasi Lautan




Ingin berbagi dengan semua, tentang puisi kesukaan Saya. Ini bukan punya Saya, penyairnya Saya lupa namanya. Tapi beginilah bunyinya: