Saturday, September 10, 2011

Manusia tanpa kulit.


Hari ini, Aku melihat ada sepasang orang tua sedang menyusuri sisa olahan hasil bumi paling akhir. Keduanya renta, Sang laki - laki berjalan saja dengan layu dalam kulitnya yang sudah merebak ungu. Pujaan hatinya yang dulu mungkin cantik jelita, bunga desa bertapak - tapak pelan mengikuti. Entah darimana, entah mau kemana. langit sore hanya jadi tirai transparan yang membatasi mataku dan mereka. Langit saja malu dan malas menghujam bumi dengan gaung sinarnya.

Wednesday, September 7, 2011

Ayah dan lain - lain.

Aku ingat bahwa terakhir Aku tunduk padamu waktu itu, ketika tangamu yang berurat dan keras karena sering beradu dengan logam menggampar ibu. Maka sejak itu tak pernah Aku patuh padamu biar sedikitpun. Hingga kadang Aku menjadi tidak mengerti ada ikatan gaib apa antara anak dan seorang Ibu.

Aku juga masih ingat terakhir kali kau menggamparku hingga patah kaki ijuk pada kepalaku lalu berujung Aku pingsan kemudian. Bukan salahmu tentu. Sejak hari itu yang kutahu bahwa Kau tak pernah lagi berani memukulku. Maka terbebaslah Aku. Atau mungkin di kemudian hari Aku terjaga dan mengerti bahwa kebebasan adalah harga yang harus mengorbankan ikatan. Dan sejak itu pula Aku tak pernah peduli akan sesuatu. Tidak, tidak sama sekali.

Wednesday, August 24, 2011

Kepada.


Jika Aku mati bunda,
jangan kau beli tanah berpayung kemboja
biar jadi abu saja itu jasad
Aku akan berkemah di neraka murtad


Maka dengan ini kutuliskan surat
Kepada Kuli, petani, nelayan yang peluhnya urat
yang setiap saat pikiran aku tuju
dianggap benalu, terduduk kuyu

Kepada anak - anak tiada ber-ibu
berpayung langit dan senja abu - abu
Kepada Pemimpin busuk
terhujani peluru kutuk

Kepada pejuang adil yang mati muda
ditembus sangkur bedil, tanpa kuda
Kepada pencuri - pencuri bergaji
berebut ulu dari tubuh gergaji

Kepada anak - anak kecil polos
terbang liar kosong dan tonggos
Kepada penjilat kaki raja
pembunuh muslihat bertameng meja


Jika Aku mati bunda,
jangan kau beli tanah berpayung kemboja
biar jadi abu saja itu jasad
Aku akan berkemah di neraka murtad





Agustus, 2011

Friday, August 19, 2011

Sebelum Aku Keluar kamar

Masih bolehkah kita ber-nas
menangis darah sambil menggaruk-garuk tanah
Atau balik menghadang batang bambu
merobek kulit - kulit batu

Atau tuan cuma membikin kita jadi jualan
Mungkin seribu atau karung sekalian
Kami bosan Tuan, dengan anda
Karena Kami harus suka,
Di rumah anak menunggu luka-luka

Wednesday, July 27, 2011

Percakapan dengan Ibu penjual Bubur




Tadi pagi, Saya pergi ke warung bubur. Warungnya sepi. Jadi Saya pesan segelas kopi dan meminta rokok. Minta. Bukan beli. Ha ha ha. Warungnya di depan rumahnya. Dan karena sepi, maka Saya dipersilahkan duduk di dalam rumahnya saja temani Ibu yang menjual bubur. Maka, terjadilah percakapan yang tak terasa sekitar dua jam lamanya. Memang, kalau sudah asik mengobrol, Saya kadang lupa waktu. Jadi mungkin sedikit kuceritakan di sini.

Ibu penjual ini tinggal bersama ayahnya dan anak laki – lakinya. Rumahnya besar, bergaya jawa zaman pra kemerdekaan. Kamarnya banyak, ruang tengahnya besar. Di dalam rumah ada pajangan – pajangan keris, dan banyak lukisan cat. Kursinya masih model kursi rotan anyaman dulu. Jadi sambil duduk – duduk, Saya sengaja melihat – lihat sebuah foto Bapak Ibunya, hitam – putih dan sudah sedikit berjamur di pinggirannya, lukisan cat air Ibu-Bapaknya. Dan ada lukisan pemandangan, lukisan Ikan di kolam. Semua lukisan cat.