Saturday, December 17, 2011

Isi Kepala : Agama.



Setelah sekian lama berkutat dengan pencarian dan segala macam perenungan tentang hal yang menjadi judul dari tulisan ini. Maka Saya piker ada baiknya Saya menuangkannya dalam bentuk tulisan agar kemudian nantinya mungkin bias jadi perdebatan atau mungkin sanggahan agar kemjauan pemikiran Anda yang membaca dan Saya yang menuliskan.

Saya terlahir dari keluarga Kristen Protestan yang biasa – biasa saja, Ibu seorang Kristen yang cukup patuh dan aktif dalam pelayanan, Ayah Saya tidak aktif. Ke gereja saja jarang. Saya tumbuh lewat ibadah – ibadah sekolah minggu, remaja, dan Angkatan Muda Gereja. Saya rajin ke gereja, tentunya setelah memasuki SMP. Karena waktu SD lebih banyak menganggur di rumah karena banyak tontonan televisi pada hari minggu.

Monday, October 31, 2011

Coretan setelah Kopdar Blogger Nusantara 2011

Iya, ini Saya. Suer.


Maka telat tiba pagi tiga puluh satu, sehari setelah waktu ratusan blogger bertemu. Aku harus merekam dengan sedikit tulisan, agar cerita tak hanya sekedar goresan.

Monday, October 17, 2011

Buat Malika Hamoudi

Kulihat jemarimu yang lentik, dan kusaksikan di langit
arakan awan mengirim senja yang lain
ke arah kita. Ada warna merah, warna biru yang pupus
bongkahan-bongkahan kelabu yang melayang jauh
dari jendela. Kulihat sungai Seine yang membelah kota
dengan jembatan-jembatan yang penuh ukiran
seperti rambut ikalmu. Lalu dari puncak apartemen tinggi
Kita berloncatan, meliuk-liuk dan berteriak di udara:
senja pecah menjadi ribuan isyarat sunyi
yang mungkin bisaditerjemahkan sebagai hasrat
atau niat untuk bunuh diri


Saturday, September 10, 2011

Manusia tanpa kulit.


Hari ini, Aku melihat ada sepasang orang tua sedang menyusuri sisa olahan hasil bumi paling akhir. Keduanya renta, Sang laki - laki berjalan saja dengan layu dalam kulitnya yang sudah merebak ungu. Pujaan hatinya yang dulu mungkin cantik jelita, bunga desa bertapak - tapak pelan mengikuti. Entah darimana, entah mau kemana. langit sore hanya jadi tirai transparan yang membatasi mataku dan mereka. Langit saja malu dan malas menghujam bumi dengan gaung sinarnya.

Wednesday, September 7, 2011

Ayah dan lain - lain.

Aku ingat bahwa terakhir Aku tunduk padamu waktu itu, ketika tangamu yang berurat dan keras karena sering beradu dengan logam menggampar ibu. Maka sejak itu tak pernah Aku patuh padamu biar sedikitpun. Hingga kadang Aku menjadi tidak mengerti ada ikatan gaib apa antara anak dan seorang Ibu.

Aku juga masih ingat terakhir kali kau menggamparku hingga patah kaki ijuk pada kepalaku lalu berujung Aku pingsan kemudian. Bukan salahmu tentu. Sejak hari itu yang kutahu bahwa Kau tak pernah lagi berani memukulku. Maka terbebaslah Aku. Atau mungkin di kemudian hari Aku terjaga dan mengerti bahwa kebebasan adalah harga yang harus mengorbankan ikatan. Dan sejak itu pula Aku tak pernah peduli akan sesuatu. Tidak, tidak sama sekali.